Logika
dan Evolusi Teori Sains
The Logic and
Evolution of Scientific Theory
(Karl
Popper,2001:All Life is Problem Solving)
Ilmu alam seperti
halnya dengan ilmu-ilmu sosial lainnya selalu dimulai dari masalah atau dari
suatu fakta yang menginspirasi ketakjuban dalam diri kita. Untuk menyelesaikan
masalah tersebut, para ilmuwan menggunakan metode yang mendasar dan berdasarkan pada common sense mereka yaitu metode trial and error atau lebih tepat dikatakan sebagai metode untuk
mencoba mencari solusi dari masalah yang dialaminya dan kemudian mengeliminasi
solusi yang salah atau keliru. Dengan metode tersebut diasumsikan kita
melakukan sejumlah eksperimen untuk menentukan solusinya. Solusi yang salah
kemudian dieliminasi dan kemudian dicoba dengan eksperimen yang lain.
Pada organisme rendah,
prosedur ini kelihatannya merupakan suatu logika. Amuba (binatang bersel satu)
menggunakan metode trial and error
tersebut ketika ia mencoba menyelesaikan masalahnya. Dalam kasus ini kita
katakan sebagai testing movement
dimana amuba tersebut mencoba melemparkan dirinya sendiri dari masalah yang
mengganggu. Sebaliknya organisme yang lebih tinggi dapat mempelajarinya melalui
trial and error bagaimana suatu masalah
tertentu harus diselesaikan.
Suatu binatang akan
mengalami masalah jika ekspektasinya ternyata salah. Dengan demikian ia
kemudian melakukan testing movement
untuk mencoba mengganti ekspektasi yang salah dengan ekspektasi yang baru. Jika suatu organisme yang lebih tinggi
terlalu sering kecewa dalam ekspektasinya, maka ia akan ambruk. Jika ia tidak
bisa menyelesaikan masalahnya maka ia akan binasa.
Belajar melalui trial and error kemudian diajukan oleh
Popper dalam model tiga tahapnya yaitu:
1.
The
problem
Masalah akan timbul
ketika berbagai macam gangguan datang apakah gangguan itu dari perasaan diri
sendiri maupun dari dugaan-dugaan yang telah ditemukan atau dipelajari melalui
metode trial and error.
2.
The
attempted solutions
Metode yang kedua
adalah upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang dialami. Tahap
kedua ini merupakan subjek untuk melakukan proses eliminasi dalam tahap ketiga.
3.
The
Elimination
Eliminasi dilakukan
untuk mengeliminasi kesalahan yang terjadi dan mencari metode lain untuk
menyelesaikan masalah tersebut. Jika suatu solusi yang salah dieliminasi, maka
akan menyisakan masalah yang belum terselesaikan dan kemudian mencari metode
baru untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Apa yang terjadi jika
suatu attempted solution berhasil
dilakukan? Solusi yang sukses tersebut dipelajari. Pada suatu binatang ketika
masalah yang sama kembali muncul, maka dengan cepat ia melakukan testing movement termasuk yang tidak sukses.
Ia akan mengulanginya terus menerus sampai mencapai solusi yang diharapkan.
Belajar berarti mengeliminasi solusi yang tidak sukses, lagi dan lagi, hingga
solusi yang diharapkan tercapai.
Model tiga tahap Popper
ini dapat juga dipahami sebagai skema teori Darwin tentang evolusi. Teori ini
dapat diaplikasikan tidak hanya evolusi suatu organisme individu saja tetapi
juga terhadap evolusi spesies. Dalam bahasa model tiga tahap, perubahan kondisi
lingkungan atau struktur dari organisme itu sendiri dapat menimbulkan masalah (tahap pertama). Hal ini
merupakan masalah adaptasi spesies, yakni suatu spesies akan survive jika ia
mampu menyelesaikan masalahnya melalui perubahan struktur genetiknya. Perubahan
genetik akan terjadi terus menerus di dalam struktur genetik. Darwinisme
mengasumsikan bahwa fungsi mutasi ini sebagai attempted solution (tahap kedua). Mutasi pada umumnya bersifat
fatal sehingga bisa membawa kematian yang dalam hal ini merupakantahap eliminasi (tahap ketiga).
Tesis pertama yang akan
dikemukan di sini adalah bahwa sains adalah fenomena biologi dan yang kedua
adalah bahwa model tiga tahap ini juga dapat diaplikasikan dalam sains. Para
filosof Yunani menerangkan bahwa sains bermula dari masalah, dari sesuatu yang
mungkin biasa-biasa saja kemudian menjadi suatu masalah atau sumber ketakjuban
pada pemikir (ilmuwan). Hal ini sangat penting, karena teori lama tentang sains
menganggap bahwa titik awal sains adalah persepsi kita atau dari pengamatan
indra kita. Salah satu hal yang mudah ditunjukkan di sini adalah bahwa tanpa masalah maka tidak ada pengamatan.
Contoh, jika saya meminta anda “Silahkan amati”, dalam hal ini anda diperlukan
untuk menjawab dengan bertanya kepada saya “ Iya, tapi apa?” “ Apa yang akan
saya amati?” Dengan kata lain anda meminta saya untuk memunculkan suatu masalah
yang dapat diselesaikan melalui pengamatan.
Teori lama dari sains
adalah tergantung pada konsepsi pengetahuan yang dangkal (commonsense). Hal ini menceritakan kepada kita bahwa pengetahuan
dunia luar sesungguhnya ditentukan dari kesan perasaan kita. Commonsense paling
berharga dan dipercaya menyelesaikan setiap masalah, tetapi tidak selalu
dipercaya. Dalam sains atau teori epistimologi diperlukan suatu sikap kritis
secara nyata.
Dengan jelas bahwa
organ penginderaan kita menginformasikan kepada kita tentang dunia sekitar.
Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa pengetahuan kita dimulai dengan
persepsi perasaan. Tapi sebaliknya perasaan kita dari sudut pandang teori evolusi adalah merupakan tools yang telah
dibentuk untuk menyelesaikan problem biologi tertentu. Dari sudut pandang teori
evolusi, organ penginderaan kita merupakan akibat dari sejumlah masalah dan
upaya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa masalah
muncul sebelum pengamatan atau persepsi indra kita: pengamatan atau persepsi
indera penting untuk mencari solusi dan memegang peranan penting dalam
mengeliminasinya.
Model tiga tahap ini
kemudian dapat diaplikasikan dengan cara berikut ini ke dalam logika atau
metodologi sains, yaitu:
(1)
Bermula dari suatu masalah atau situasi
masalah,
(2)
Upaya untuk mencari solusi, dalam hal
ini selalu terdiri dari teori dan teori ini berupa trial dan sangat sering salah sehingga akan selalu ada
hipotesis-hipotesis lain atau dugaan-dugaan lain yang muncul,
(3)
Dalam sains, kita belajar mengeliminsai
kesalahan kita, dengan mengeliminasi teori kita yang salah.
Model tiga tahap
kemudian dapat diaplikasikan untuk menjelaskan sains dan ini membawa kita
kepada pertanyaan utama: What is distinctive about human science? Apa yang membedakan antara amuba dengan
ilmuwan besar seperti Newton atau Einstein atau katakanlah kita sebagai manusia?
Tentu jawabannya adalah manusia memiliki
sikap kritis. Tahap ketiga dalam model ini adalah tahap mengeliminasi kesalahan
yang merupakan hasil dari sikap kritis atau pemikiran kritis. Metode kritis itu
sendiri memegang peran penting dalam pertumbuhan ilmu pengetahuan yang sangat
pesat.
Semua pengetahuan pra
ilmiah (prescientific) apakah itu
binatang atau manusia adalah dogma (bersifat menerima saja tanpa harus
mengetahui asal usulnya) sedangkan sains merupakan hasil dari penemuan
non-dogmatic atau metode kritis.
Esensi dari metode
kritis adalah attempted solution,
teori atau hipotesis kita yang dapat diformulasi dan dihadirkan dalam bahasa
sehingga menjadi object of consciously
critical investigation. Sesuatu hasil pemikiran yang tidak diucapkan itu
hanya merupakan suatu subjek atau privasi diri sendiri dan benar menurut diri
kita sendiri. Situasinya akan berbeda jika pemikiran yang sama diucapkan atau
dituliskan dan dibaca oleh publik. Hasil pemikiran yang diucapkan atau
dituliskan tersebut akan menjadi suatu objek yang harus dipertanggungjawabkan. Jika
kita katakan dalam hati “hari ini akan hujan”, berarti bahwa hal tersebut masih
merupakan suatu subjek yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, jika
kita mengatakan kepada publik bahwa “hari ini akan hujan”, maka hal tersebut
akan menjadi objek dan hal tersebut harus dipertanggungjawabkan. Misalnya kita
harus menjelaskan tentang apa tanda-tandanya, bagaimana prosesnya, dan
sebagainya. Jika tidak jadi hujan, maka hasil pemikiran yang kita ucapkan tadi
menjadi falsu.
Pertanyaan tentang bagaimana
amuba sangat jauh berbeda dengan Einstein. Amuba tidak mengetahui kesalahannya:
ekspektasinya merupakan bagian dari dirinya sendiri dan pra ilmiah membawa
suatu pengharapan atau hipotesis sering oleh dirusak oleh reputasi dari harapan
atau hipotesis. Einstein membuat hipotesis secara obyektif. Kadang-kadang
hipotesis tersebut diluar dugaannya dan para ilmuwan dapat menolak hipotesis
yang dibuatnya melalui kritikan tanpa
membuangnya.
Poppera telah sampai
pada hipotesis sendiri, teori yang banyak didukung teori sains tradisional
telah dicap sebagai paradoksial. Tesis utama Popper adalah bahwa apa yang
membedakan pendekatan ilmiah dan metode pendekatan pra ilmiah adalah metode attempted falsification (mencoba untuk
menyempurnakan). Setiap upaya mencari solusi, setiap teori diuji dengan teliti.
Tetapi pengujian secara teliti selalu ditemukan kelemahan dari apa yang diuji.
Pengujian teori juga dilakukan sebagai upaya untuk mengetahui kelemahannya. Pengujian
suatu teori adalah suatu upaya untuk menyanggah atau menyempurnakan suatu
teori. Hal ini tidak berarti bahwa seorang ilmuwan selalu berbahagia dengan
menyempurnakan teorinya sendiri. Ia meletakkan teori kedepan sebagai suatu attempted solution yang berarti bahwa
dia telah bersungguh-sungguh melakukan pengujian. Banyak para ilmuwan yang
melakukan falsifikasi suatu solusi merasa secara personal sangat kecewa.
Pada berbagai kejadian
pendekatan kritis merupakan suatu hal yang sangat penting yang membuat sains
dicapai melalui objektif, publik dan formulasi linguistik dari teori-teorinya.
Seringkali dalam debat tidak dapat menghasilkan sesuatu apapun selama
bertahun-tahun sebagaimana dalam kasus perdebatan antara Albert Einstein dan
Niels Bohr. Tidak ada garansi dari setiap diskusi ilmiah dapat
menghasilkan/menyelesaikan sesuatu.
Tesis utama Popper
kemudian menjadi sesuatu yang baru dalam sains dan metode ilmiah yang
membedakannya dengan pendekatan pra ilmiah dan secara sadar memiliki sikap
kritis untuk melakukan upaya mendapatkan solusinya.
Point penting yang
harus kita ketahui bahwa kita selalu belajar secara keseluruhan terhadap
sesuatu melalui falsifikasi. Kita belajar tidak hanya mengatakan bahwa teori
itu salah, tapi kita harus tahu mengapa teori tersebut salah. Kita memperoleh
sesuatu yang baru dan harus fokus pada masalah tersebut dan suatu masalah baru
sebagaimana yang kita ketahui merupakan titik awal yang nyata untuk
perkembangan baru dalam sains .
Model Empat Tahap:
1. Problem lama (The old problem)
2. Formasi teori-teori tentatif (Formation of tentative theories)
3. Eliminasi (The attempt at elimination)
4. Problem baru (The new problems)
Problem pra ilmiah dan ilmiah pada dasarnya dimulai dari dari hal-hal yang bersifat praktis, tetapi dengan siklus empat tahap mereka dengan segera digantikan secara parsial oleh masalah teoritis. Hal ini berarti bahwa sebagian besar masalah-masalah baru muncul melalui teori-teori yang kritis. Hal ini sesuai dengan problem Cosmogony Hesiod dan dari problem para filsuf sebelum Socratic Yunani serta problem-problem umum dalam ilmu pengetahuan alam modern. Problem merupakan produk teori itu sendiri dan dari kesulitan-kesulitan yang dipecahkan melalui pembahasan kritis. Problem teoritis ini pada dasarnya merupakan pertanyaan yang berkenaan dengan penjelasan (explanation) atau explanatory theories: jawaban-jawaban tentatif diberikan melalui teori-teori yang faktanya merupakan attempted explanations.
Di antara problem-problem praktis kita dapat memasukkan problem-problem memprediksi sesuatu. Akan tetapi dari sudut pandang intelektual sains murni, prediksi merupakan tahap ketiga dari model empat tahap tersebut yaitu pembahasan dan pengujian kritis. Secara intelektual mereka tertarik karena mengijinkan kita untuk mengecek validitas teori kita atau attempted explanation.
Oleh karena model empat tahap ini bersifat siklik atau periodik, maka kita dapat memulai dari tahap ke berapa saja dari empat tahap tersebut. Misalnya kita mulai dari tahap kedua yaitu dengan teori-teori. Dapat dikatakan bahwa para ilmuwan memulai dari teori lama (old theory) dan dengan melalui pembahasan yang kritis maka ia dapat melakukan eliminasi dan sampai pada persoalan bahwa ia kemudian mencoba menyelesaikannya melalui teori-teori baru. Justru karena dari karakter siklik tersebut, maka interpretasi yang dilakukan ini sungguh memuaskan.
Kita dapat menyatakan bahwa penemuan teori-teori yang sesuai (creation of satisfactory theories) sebagai tujuan sains. Di samping itu pertanyaan-pertanyaan seputar suatu teori yang dapat dianggap satisfactory menggiring kita kembali ke problem sebagai starting point. Kita membuat suatu teori yang harus menyelesaikan persoalan-persoalan yang membutuhkan penjelasan.
Pada akhirnya kita bisa pilih sebagai starting point mengeliminasi atau memberantas teori-teori yang telah dianggap benar sampai sekarang. Untuk sains dapat dikatakan selalu bermula dari kegagalan suatu teori. Kegagalan ini, eliminasi ini, menuntun kita kepada problem mengganti teori yang dieliminasi dengan teori yang lebih baik.
Popper secara pribadi lebih memilih problem sebagai starting point, tetapi ia sadar bahwa karakter siklik dari model empat tahap tersebut memungkinkan kita dapat memilih tahap lain sebagai starting point untuk suatu perkembangan baru.
Hal yang sangat krusial dari model empat tahap ini adalah karakteristik dinamiknya. Masing-masing tahap mengandung suatu motivasi logika yang lebih dalam untuk berpindah ke tahap berikutnya. Sains merupakan fenomena yang dipahami sebagai pertumbuhan yang terus menerus (perpetually growing), Sains pada dasarnya dinamik dan tidak pernah selesai.
Alasan lain Popper lebih memilih problem sebagai starting point adalah adanya jarak antara problem lama dengan penggantinya (problem baru). Bagi Popper bahwa fitur perkembangan sains jauh lebih mengesankan daripada jarak antara teori lama dan generasi teori berikutnya yang menggantikan teori lama.
Tinjau contoh teori Newtonian dan teori Einstein tentang gravitasi. Jarak antara dua teori ini sangat besar. Sekalipun begitu memungkinkan untuk menerjemahkan teori Newtonian ke dalam bahasa Einsteinian yaitu dalam formalisme tensor kalkulus. Professor Peter Havas mendapatkan bahwa perbedaan antara dua teori ini adalah hanya dalam hal batas kecepatan propagasi gravitasional, batas kecepatan cahaya, c. Hal ini berarti bahwa Havas telah sukses memformulasikan teori Einstein sedemikian rupa sehingga dengan menggantikan batas kelajuan propagasi gravitasional dengan kelajuan yang melebihi kelajuan cahaya (infinite) maka ia menjadi identik dengan teori Newtonian.
Popper beralasan bahwa karakter progressive dan dinamis jauh lebih jelas jika problem yang ditemukan oleh pengkritik teori Newtonian (Ernst Mach) dibandingkan dengan problem yang ditemukan oleh pengkritik teori Einstein (terutama oleh Einstein itu sendiri).
Jadi, jika problem lama dan problem baru dibandingkan akan terlihat jarak yang besar atau kemajuan yang besar. Pengaruhnya hanya satu dari problem lama telah menyimpan misteri, penjelasan dari apa yang disebut prinsip Mach. Hal ini merupakaan persyaratan bahwa kita menyusun kelembaman berat massa sebagai pengaruh dari massa kosmik yang sedikit. Einstein sangat kecewa karena teorinya tidak menjelaskan secara lengkap tentang hal ini. Pada kenyataannya, teori Einstein tentang gravitasi bersifat lembam sebagai hasil dari gravitasi; namun demikian jika kita buat jauh dari massa dalam teori gravitasi Einstein, maka ia runtuh ke dalam teori relativitas khusus dan inersia tetap ada tanpa dipengaruhi oleh massa.
Einstein sendiri melihat hal ini sebagai satu dari kecacatan teorinya. Dan problem pengintegrasian prinsip Mach ke dalam teori gravitasi telah dialami oleh setiap ilmuwan selama setengah abad ini.
Dengan alasan seperti itu tampaknya bagi Popper lebih baik memulai model empat tahap dari problem. Bagaimana pun juga model menunjukkan apa yang baru di dalam dinamika perkembangan sains, katakanlah keterlibatan aktif kita dalam proses eleminasi, melalui hasil penemuan bahasa, penulisan, dan diskusi kritis. Tesis utama Popper adalah bahwa sains timbul melalui hasil diskusi yang kritis.
Kesimpulan penting dari tesis utama Popper mengacu pada pertanyaan bagaimana teori-teori sains berbeda dengan teori lainnya. Hal ini bukan suatu problem sains itu sendiri tetapi suatu problem sains teoretik. Ini merupakan problem yang masuk ke dalam logika atau filosofi sains. Jawaban dari masalah tersebut di atas dapat diturunkan dari tesis utama Popper berikut ini.
Suatu teori sains empiris berbeda dengan teori-teori lainnya karena teori ini boleh jadi terlepas oleh hasil-hasil eksperimen yang memungkinkan, dalam arti hasil-hasil eksperimen yang memungkinkan dapat digunakan untuk menyempurnakan suatu teori jika kita secara aktual menentukannya.
Popper menamakan problem yang membedakan teori sains empiris dengan teori-teori lainnya disebut problem demarkasi dan solusi yang diajukan Popper disebut kriteria demarkasi.
Suatu teori merupakan bagian dari sains empiris jika dan hanya jika ia bertentangan dengan pengalaman dan karena itu pada prinsipnya dapat disempurnakan melalui pengalaman. Popper menamakan kriteria demarkasi sebagai kriteria falsiabilitas.
Kriteria falsiabilitas dapat diilustrasikan dalam banyak teori. Sebagai contoh teori tentang vaksinasi untuk melindungi seseorang dari penyakit cacar adalah dapat disempurnakan. Jika seseorang yang telah divaksin dan orang tersebut masih mengalami penyakit cacar maka berarti teori tersebut masih harus disempurnakan. Contoh ini dapat juga digunakan untuk menunjukkan bahwa kriteria falsiabilitas mempunyai problem dirinya sendiri. Jika satu dari satu juta orang yang telah divaksin dan masih mengalami penyakit cacar, maka harus meninjau kembali teori tersebut untuk disempurnakan. Kita asumsikan bahwa masih ada sesuatu yang salah dengan vaksin tersebut atau dengan material vaksinnya. Dan pada prinsipnya akan selalu ada jalan yang mungkin untuk menyelesaikannya. Ketika kita dihadapkan pada suatu falsifikasi, kita dapat selalu berupaya mencari jalan keluar dari masalah tersebut; kita dapat memperkenalkan suatu hipotesis tambahan dan menolak falsifikasi. Kita dapat mengebalkan (immunize) teori-teori yang kita ajukan untuk melawan semua kemungkinan falsifikasi (menggunakan pernyataan Professor Has Albert)
Hal ini tidak selalu sederhana untuk mengaplikasikan kriteria falsiabilitas. Kriteria falsiabilitas mempunyai nilai yang dapat diaplikasikan ke dalam teori vaksin cacar sekalipun aplikasi tidak selalu sederhana. Jika perbandingan orang-orang yang divaksin yang mengalami penyakit cacar hampir sama (atau lebih besar) dengan yang tidak divaksin dan mengalami cacar, maka semua ilmuwan akan membuang teori tentang perlindungan vaksin.
Mari kita bandingkan kasus ini dengan teori yang dalam pandangan Popper tidak dapat difalsifikasi. Teori Freud tentang psikoanalisis. Jelas bahwa teori ini dapat diuji jika kita dapat menggambarkan beberapa perilaku manusia yang bertentangan dengan teori. Ini adalah contoh teori tentang perilaku manusia yang dapat disempurnakan. Sebagai contoh teori tentang seorang yang telah hidup lama dan selalu bersikap jujur tidak akan secara tiba-tiba menjadi pencuri di masa tuanya jika kondisi keuangannya aman.
Teori ini tentunya dapat disempurnakan dan Popper menduga bahwa akan ada penyempurnaan segera terjadi. Akan tetapi sebaliknya dengan teori ini, tampaknya tidak ada yang menurut pikiran perilaku manusia yang dapat menyangkal psikoanalisis. Jika seseorang mencari kehidupan lain dengan mengambil resiko pada dirinya sendiri, atau jika ia mengancam kehidupan teman lamanya --- apapun perilaku manusia yang tidak biasanya terjadi—ia tidak akan kontradiksi dengan psikoanalisis. Pada prinsipnya, psikoanalisis dapat selalu menerangkan perilaku aneh manusia secara umum. Oleh karena itu ia tidak dapat disempurnakan secara empiris; ia tidak dapat diuji.
Popper tidak sedang mengatakan bahwa Freud tidak mempunyai banyak pengetahuan yang benar. Popper sedang beragumentasi bahwa teorinya bukan sains empiris, tidak dapat diuji secara tepat.
Sejak teori Einstein tentang gravitasi, kita mempunyai alasan untuk menganggap bahwa teori Newton itu salah, sungguhpun ia merupakan pendekatan yang ekselen. Bagaimanapun juga kedua teori tersebut dapat difalsifikasi.
Teori gravitasi Einstein dengan sendirinya dipengaruhi oleh hampir semua pelanggaran dalam mekanika Newton, justru karena mekanika Newton merupakan pendekatan yang baik dalam mekanika Einstein. Lagi pula, meskipun Einstein melihat secara khusus kasus ini, ia mengamati dan menolak teorinya sendiri bukan teori Newton. Hal ini menarik karena Einstein sendiri secara ekstrim bersikap kritis terhadap teori gravitasinya sendiri. Meskipun yang membuktikan tidak ada pengujian eksperimen (semua diajukan oleh dirinya sendiri) membuktikan kesalahan teorinya, ia memandangnya sebagai bukan suatu kepuasan penuh pada teori dasarnya. Einstein sungguh sadar bahwa teorinya seperti teori-teori lain dalam ilmu alam merupakan suatu upaya sementara untuk mendapatkan solusi (provisional attempt at a solution) dan karena itu mempunyai karakter hipotesis. Ia memberikan alasan mengapa teorinya harus dilihat sebagai sesuatu yang tidak lengkap dan tidak cukup untuk penelitiannya sendiri. Einstein membuat daftar apasaja yang diperlukan dalam menyempurnakan teorinya.
Akan tetapi apa yang diklaim dalam teori gravitasi aslinya telah merepresentasikan suatu pendekatan yang lebih baik untuk mencari teori sesudahnya daripada teori gravitasi Newton dan karena itu merupakan pendekatan yang lebih baik untuk mendapatkan kebenaran.
Ide pendekatan kepada kebenaran dalam pandangan Popper merupakan satu dari ide-ide penting dalam teori sains. Ini merupakan suatu loncatan dengan fakta bahwa sebagaimana kita lihat diskusi kritis tentang teori sungguh penting dalam sains. Akan tetapi diskusi kritis ditentukan (diatur) oleh nilai-nilai tertentu.
Di antara ide regulasi yang mengatur diskusi kritis tentang perbandingan teori-teori, ada tiga yang paling signifikan yaitu: (1) ide tentang kebenaran, (2) ide logis dan kandungan empiris suatu teori dan (3) ide tentang kandungan kebenaran teori dan pendekatan kepada kebenarannya.
Ide tentang kebenaran menentukan diskusi kritis dapat dilihat dari fakta bahwa diskusi secara kritis suatu teori mengharapkan pengeliminasian teori-teori yang salah. Hal ini menunjukkan bahwa kita dipandu oleh ide untuk mencari teori yang benar.
Ide regulasi yang kedua - ide dari kandungan suatu teori- mengajarkan kepada kita untuk mencari teori-teori yang mengandung informasi yang tinggi. Masalah yang sulit dapat diselesaikan hanya oleh teori-teori yang mengandung logika yang tinggi dan empiris.
Ukuran dari konten tersebut adalah apa yang digambarkan sebagai boldness of a theory. Kita menegaskan dengan suatu teori bahwa resiko yang lebih besar dari suatu teori adalah bahwa teori tersebut akan menjadi palsu dan harus disempurnakan. Contoh-contoh teori yang tegas dengan kandungan logika yang tinggi sekali lagi adalah teori Newton dan Einstein tentang gravitasi, teori atom kuantum dan teori genetika. Teori-teori yang tegas seperti ini mempunyai kandungan logika yang tinggi dan empiris tinggi.
Dua kandungan konsep ini dapat diterangkan sebagai berikut: kandungan logika suatu teori adalah class its consequences. Ini adalah sekumpulan atau kelas dari semua proposisi yang dapat diturunkan secara logis dari suatu teori yang memiliki sejumlah konsekwensi yang lebih besar atau lebih tinggi.
Boleh jadi ketertarikan merupakan suatu ide dari kandungan empiris suatu teori. Untuk memahami ide ini, mari kita mulai dari kenyataan bahwa hukum alam empiris atau suatu teori empiris mengenyampingkan kejadian tertentu yang dapat diamati. Teori ‘semua burung gagak hitam’ mengenyampingkan keberadaan gagak putih dan pengamatan menunjukkan bahwa keberadaan gagak putih tersebut menolak teori ini. Akan tetapi sebagaimana yang telah kita lihat bahwa psikoanalisis Feudian tidak mengeyampingkan kejadian-kejadian yang dapat diamati. Kandungan logika ini cukup tinggi tetapi tidak memiliki kandungan empiris. Kandungan empiris suatu teori kemudian digambarkan sebagai suatu kumpulan atau kelas proposisi empiris yang ditiadakan oleh teori yang berarti bahwa sekumpulan atau kelas proposisi empiris yang bertentangan dengan teori.
Suatu pernyataan empiris atau observasional yang kontradiksi dengan suatu teori dapat digambarkan suatu possible falsification atau potenstial falsifier dari pertanyaan suatu teori. Jika suatu falsifikasi yang memungkinkan secara nyata diamati, maka kemudian teori tersebut difalsifikasi secara empiris.
Pernyataan ‘Di sini ada gagak putih’ merupakan suatu falsifikasi yang memungkinkan baik toeri low-content bahwa di sana tidak ada gagak putih maupun teori high-content bahwa semua gagak berwarna hitam.
Dari sudut pandang ini kita sekali lagi membandingkan teori Newton dan Einstein tentang gravitasi. Apa yang kita dapatkan adalah bahwa kandungan empiris dan kekuatan penjelasan teori Einstein jauh lebih besar daripada teori Newton. Teori Einstein tidak hanya menggambarkan semua jenis gerak Newton khususnya tentang orbit planet tetapi juga menjelaskan pengaruh gravitasi terhadap cahaya. Kandungan empiris teori jauh lebih besar daripada kandungan empiris teori Newton sehingga kekuatan penjelasan teori Einstein jauh lebih tinggi. Namun demikian teori Einstein jauh lebih beresiko daripada teori Newton. Teori Einstein lebih mudah untuk difalsifikasi justru karena potenstial falsifiernya lebih besar.
Teori Einstein tentang cahaya merupakan hasil dari diskusi kritis yang menimbulkan banyak eksperimen , tampak sebagai pendekatan kepada kebenaran yang (approximation to the truth) lebih baik.
Ide pendekatan kepada kebenaran mengisyaratkan suatu pandangan realistis terhadap dunia (realistic view of the word). Ini tidak mengisyaratkan bahwa realitas teori ilmiah kita menggambarkannya tetapi ia mengisyaratkan bahwa ada suatu realitas bahwa kita dan teori kita dapat menggambarkan suatu deksripsi realitas. Kehidupan di alam atau dimanapun dalam sudut pandang kosmologi merupakan suatu fenomena yang sangat luar biasa.
Pandangan realistik terhadap dunia bersama dengan ide pendekatan kepada kebenaran tampak sebagai sesuatu yang wajib untuk suatu pemahaman terhadap karakter sains secara terus menerus. Lagi pula pandangan realistis kita terhadap dunia tampak hanya merupakan pandangan kita sebagai manusia.
Sains adalah suatu sistem dari produk-produk pemikiran manusia --- sejauh ini idealisme adalah benar. Akan tetapi ide-ide ini menjadi gagal ketika sekalia lagi diuji realitasnya.